Agama Hindu : Kerukunan Dalam Agama Hindu
• Agama Sebagai Sumber Kerukunan
Secara historis , kondisi kehidupan pada masa lampau telah terbina kearah terwujudnya kehidupan yang penuh toleransi, rukun dan damai antar penganut agama yang satu dengan agama yang lainnya . Antar Hindu dan Budha, suatu contoh kerukunan yang pernah terjadi di masa lampau dalam bentuk shinkritisme konsep,yaitu luluhnya antara Siwa Siddhanta (dari Hindu ) dan Budha Mahayana ( dari agama Budha ) di Jawa Timur . Penyatuan kedua konsep ini dikenal dengan nama " Siwa Budha". Sampai saat ini masih banyak orang pada umumnya belum bisa membedakan antara Hindu dan Budha, sebagai akibat pengalaman masa lampau.
Pada dasarnya semua ajaran Agama bersumber pada Tuhan Yang Maha Esa , tujuannya adalah agar umatnya dapat mencapai kesejahteraan hidup didunia ini, dan mencapai kebahagiaan abadi diakhirat kelak .Dharma dapat berarti agama atau hukum yang mengatur dan menuntun kehidupan dan segenap makhluk yang ada di alam ini, agar mencapai kebahagiaan, memberi penerangan agar mengetahui kebenaran. Dharma meliputi Satya , ritam , diksa,tapa, brahma,dan yadnya .
Sesungguhnya semua ajaran agama menuntun umatnya agar berpikir, berkata dan berprilaku yang dapat menyebabkan kedamaian semua mahluk ( Sarwa bhuta hita). Namun tidak semua umat beragama mampu menghayati dan menerapkan ajarannya agamanya dalam praktek sehari-hari dengan baik karena awidya/ kebodohan, sehingga didalam kehidupan beragama ada berprilaku menyimpang dari ajaran itu sendiri. Prilaku yang menyimpang itulah dapat membuat ternodanya kesucian agama.
Istilah kerukunan berasal dari kata atau istilah yang dipenuhi oleh muatan makna baik dan damai, serasi dan seimbang. Kerukunan mencerminkan hubungan timbal balik yang ditandai oleh sikap saling menerima , saling mempercayai , saling menghormati dan menghargai, serta sikap saling memaknai kebersamaan.
• Hakikat Kebersamaan dalam Pluralisme
Pluralisme salah satu prasat terwujudnya masyarakat modern yang demokratis adalah terwujudnya masyarakat modern yang demokratis adalah terwujudnya masyarakat yang menghargai kemajemukan bangsa. Kemajemukan ini diapresiasi sebagai sunnatullah . Masyarakat majemuk ini tentu saja memiliki budaya dan aspirasi yang beraneka, tetapi mereka seharusnya memiliki kedudukan yang sama, tidak ada superioritas antara satu suku, etnis atau kelompok sosial dengan yang lainnya.
Ada beberapa opsi dalam masyarakat mengenai pluralisme keagamaan: Pertama adalah sikap menerima kehadiran orang lain atas dasar konsep hidup berdampingan secara damai, yang diperlukan adalah sikap tidak saling mengganggu . Kedua adalah mengembangkan kerjasama sosial- keagamaan melalui berbagai kegiatan yang secara simbolik memperlihatkan dan fungsional mendorong proses pengembangan kehidupan beragama yang rukun. Ketiga adalah mencari dan mengembangkan dan merumuskan titik - titik temu agama - agama untuk menjawab problem , tantangan dan keprihatinan umat manusia.
Jika semua agama itu bersikap saling menghormati, maka setiap agama berhak hidup dinegeri ini. Pluralisme dianjurkan sebagai jalan terbaik untuk melayani, atau sebuah proses yang mendorong lahirnya demokrasi paling ideal dalam masyarakat yang semakin modern dan kompleks, agar setiap individu atau kelompok dapat berpartisipasi dalam setiap pengambilan keputusan.
• Ajaran Kerukunan Dalam Hindu
Dalam ajaran kitab suci Veda, masalah kerukunan dijelaskan secara gamblang dalam ajaran tattwam asi, karma phala , ahimsa , dan sansarga.
1. Tat Twam Asi
Istilah Tat Temam Asi terdiri dari tiga suku kata yaitu tat, Twam dan Asi . Didalam bahasa sansekerta, kata tat berasal dari suku kata yang berarti itu atau dia , itu menunjukkan hakikat, itu juga menunjukkan kebenaran atau Tuhan itu sendiri . Selanjutnya kata Twam berasal dari suku kata yusmad yang berarti kamu, atau engkau dan kata asi berasal dari urat kata as (a) yang berarti adalah. Jadi secara sederhana kata tat Twam Asi dapat diartikan kamu adalah dia atau dia adalah kamu, atau sederhana nya kau dan aku adalah sama.
Dengan demikian dapat diyakini sesungguhnya ajaran Tatwam Asi adalah merupakan ajaran ssosial tanpa batas.
2. Karma Phala
Kata karma Phala berasal dari kata karma dan Phala , karma berasal dari kata "kr" yang diambil dari kata sansekerta yang artinya bergerak atau berbuat .
- Yakni segala gerak ata aktivitas yang dilakukan, baik itu perbuatan disengaja atau tidak disengaja. Perbuatan itu baik atau buruk, benar atau salah .
- karma Phala ditinjau dari segi epistimologi karma Phala adalah sebab akibat, maka segala sebab pasti akan membawa akibat .
Dengan demikian karma Phala adalah sebab akibat atau hasil dari setiap perbuatan. Segala sebab akan membawa akibat, segala sebab yang berupa perbuatan akan membawa hasil perbuatan.
3. Ahimsa
Ahimsa berasal dari kata himsa ( kejam) . Sesuai dengan asal katanya , ajaran ini menyerukan pada seluruh umat manusia untuk menjunjung tinggi semangat nir- kekejaman ( non-violence) dalam setiap laku kehidupannya. Pengertian kain secara harfiah, ahimsa memiliki makna tidak menyerang tidak melukai, tidak menyakiti atau tidak membunuh. Ajaran ini mengajarkan prinsip -prinsip etis dalam kehidupan salah satunya untuk bterwujud kerukunan, keharmonisan dan keseimbangan.
4. Sansarga
Disamping hak tersebut diatas, jalinan kerukunan dapat dibina melalui persahabatan atau pergaulan yang dikenal dengan sansarga. Bersahabat atau bergaul adalah merupakan suatu kebutuhan sosiologis bagi manusia. Tidak ada manusia normal yang tidak membutuhkan persahabatan. Ciri-ciri kemanusiaan seseorang baru akan nampak apabila dia berada di tengah-tengah manusia lainnya. Jiwa manusia membutuhkan untuk diterima minimal oleh lingkungannya terdekat.
Kerukunan sangat mutlak diperlukan diamana pun kita berada , terlebih di Indonesia dengan dasar negara Pancasila, sila 1 yaitu ketuhanan yang maha esa, memungkinkan kehidupan beragama menjadi semakin tumbuh subur, dan harmonis berlandaskan semangat persatuan dan kesatuan bangsa.
Demikian materi tentang kerukunan Dalam Agama Hindu
Nama : NENGAH ADI GIANTARA
Nim. : B1C122106
KELAS : B
JURUSAN: AKUNTANSI
Komentar
Posting Komentar